Survey Penambahan Lahan HPT Terintegrasi Perkebunan Kopi Dorong Penguatan Peternakan di Tanggamus
Tanggamus - Upaya pengembangan hijauan pakan ternak (HPT) yang terintegrasi dengan potensi perkebunan lokal terus dilakukan untuk mendukung keberlanjutan usaha peternakan kambing di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan survei lokasi penambahan luas lahan HPT yang diintegrasikan dengan perkebunan kopi sekaligus evaluasi penanaman HPT tahun 2025 di lokasi inti ICARE, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. (12/8/26).
Kegiatan ini melibatkan BRMP Ruminansia Kecil, PR Peternakan BRIN, Koperasi Tirtokencono, serta kelompok ternak di Kecamatan Air Naningan. Survei dilakukan dengan meninjau langsung areal perkebunan kopi dan berdiskusi bersama peternak serta pemangku kepentingan terkait untuk mengidentifikasi potensi perluasan lahan penanaman HPT sekaligus mengevaluasi perkembangan penanaman yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi, terdapat potensi sekitar 1,5–2 hektare lahan perkebunan kopi yang dapat dikembangkan untuk integrasi HPT. Konsep integrasi ini dinilai strategis karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan secara bersamaan, baik untuk mendukung penyediaan pakan ternak maupun menunjang produktivitas tanaman perkebunan.
Salah satu alternatif HPT yang mendapat perhatian dalam diskusi adalah jenis legum pohon, antara lain Indigofera, Tricanthera, jati kapur, dan singkong Papua. Tanaman tersebut tidak hanya memiliki potensi sebagai sumber hijauan pakan bagi kambing, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penaung pada areal kopi. Keberadaan tanaman tegakan juga dinilai sesuai dengan kondisi perkebunan kopi masyarakat di Air Naningan yang pada sebagian arealnya telah diintegrasikan dengan tanaman lada.
Peternak Zainal Mustofa menyampaikan bahwa jenis HPT legum pohon menjadi salah satu pilihan yang diharapkan dapat dikembangkan pada sistem integrasi tersebut.
“Jenis HPT yang diharapkan untuk diintegrasikan dengan perkebunan kopi adalah jenis legum pohon seperti Indigofera, Tricanthera, jati kapur, dan singkong Papua. Selain daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan kambing, pohonnya juga dapat berfungsi sebagai naungan kopi dan tegakan tanaman lada,” ujarnya.
Selain melakukan survei calon lokasi, kegiatan juga menjadi momentum untuk mengevaluasi penanaman HPT yang telah dilaksanakan pada tahun 2025. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan kondisi tanaman di lapangan serta diskusi mengenai perkembangan pemanfaatan HPT dalam mendukung kebutuhan pakan ternak. Hasil evaluasi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan pengembangan dan penataan penanaman HPT pada periode berikutnya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama peternak, PR Peternakan BRIN, dan anggota Koperasi Tirtokencono mengenai perkembangan peternakan kambing perah dan peluang pemasaran produk susu kambing di Kecamatan Air Naningan. Diskusi tidak hanya membahas aspek produksi, tetapi juga mengarah pada upaya meningkatkan nilai tambah hasil peternakan melalui diversifikasi produk.
Sejumlah alternatif produk yang berpotensi dikembangkan antara lain susu kambing dalam kemasan, silase, tepung Indigofera, serta minuman susu kopi gula aren dalam kemasan berbahan dasar susu kambing. Produk terakhir dinilai memiliki daya tarik karena memadukan komoditas potensial yang telah berkembang di wilayah Air Naningan, yakni kopi, gula aren, dan susu kambing.
Meski demikian, pengembangan produk dan pemasarannya masih memerlukan kajian lebih lanjut, terutama untuk mengetahui preferensi konsumen, daya serap pasar, kelayakan usaha, standar produk, kemasan, harga jual, serta strategi pemasaran yang tepat. Dengan demikian, pengembangan produk tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan dan peluang pasar.
Kegiatan survei dan evaluasi ini menjadi bagian penting dalam membangun model integrasi peternakan–HPT–perkebunan kopi yang lebih produktif dan berkelanjutan. Pemanfaatan lahan secara terpadu diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pakan, mengurangi ketergantungan terhadap sumber pakan dari luar, sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi tanaman perkebunan dan usaha peternakan masyarakat.
Melalui kolaborasi antara BRMP Ruminansia Kecil, PR Peternakan BRIN, Koperasi Tirtokencono, dan kelompok ternak, hasil survei diharapkan dapat menjadi dasar bagi penambahan luas lahan HPT pada tahun 2026 sekaligus memperkuat pengembangan peternakan kambing perah dan hilirisasi produk peternakan di lokasi inti ICARE Tanggamus. Integrasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan ketersediaan pakan yang lebih terjamin, tetapi juga membuka peluang terbentuknya ekosistem usaha peternakan yang terhubung dengan potensi perkebunan dan produk lokal masyarakat.